https://subang.times.co.id/
Berita

Masyarakat Venezuela Mulai Ketakutan, Milisi Bersenjata Muncul Dimana-mana

Rabu, 07 Januari 2026 - 08:42
Masyarakat Venezuela Mulai Ketakutan, Milisi Bersenjata Muncul Dimana-mana Dekrit darurat telah dikeluarkan penguasa Venezuela untuk mencegah perayaan publik atas penggulingan dan penculikan Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat. (FOTO: The Guardian/Reuters)

TIMES SUBANG, JAKARTA – Masyarakat di ibu kota Venezuela, Caracas ketakutan, karena mulai muncul milisi bersenjata yang dengan tajam menatap dan mengawasi bahkan menggeledah handphone warga, menyusul ditangkap dan diculiknya Presiden Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat.

Sementara itu kabar terbaru, kantor hak asasi manusia PBB mengatakan, intervensi militer AS yang menggulingkan dan kemudian menculik pemimpin Venezuela melanggar hukum internasional dan Piagam PBB.

Bahkan kantor hak asasi manusia PBB itu juga memperingatkan bahwa hal itu berisiko memperburuk hak asasi manusia dan mengancam keamanan dunia. Kantor tersebut mengatakan masa depan Venezuela harus ditentukan oleh rakyatnya. 

Hingga kini masih belum ada kepastian apa yang akan terjadi selanjutnya setelah pasukan AS menangkap dan menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dan istrinya.

Di jalan-jalan baik di kota besar maupun kecil di Venezuela, penguasa mengerahkan milisi bersenjata dalam upayanya menegakkan kekuasaan setelah serangan AS di Caracas.

Milisi bersenjata atau kelompok paramiliter yang dikenal sebagai colectivos itu berpatroli di jalanan dengan senapan serbu, menghentikan dan menggeledah mobil serta telepon masyarakat.

Kelompok paramiliter itu melintasi ibu kota dengan sepeda motor dan senapan serbu pada hari Selasa dalam sebuah unjuk kekuatan untuk membungkam setiap perbedaan pendapat atau persepsi kekosongan kekuasaan.

Seperti dilansir The Guardian, mereka menghentikan dan menggeledah mobil serta meminta akses ke ponsel warga untuk memeriksa kontak, pesan, dan unggahan media sosial mereka, sebagai demonstrasi yang jelas kepada penduduk bahwa rezim tetap berkuasa meskipun presiden Nicolas Maduro diculik .

"Siapa pun yang dicurigai mendukung serangan Amerika Serikat pada hari Sabtu itulah berpotensi ditangkap," kata Mirelvis Escalona, ​​40, seorang warga di lingkungan Catia, Caracas bagian barat.

"Ada rasa takut. Ada warga sipil bersenjata di sini. Kita tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi, mereka mungkin menyerang orang," tambahnya.

Suasana normal kembali kemudian  menyelimuti sebagian besar kota, dengan toko-toko dan toko roti dibuka kembali dan orang-orang pergi bekerja, tetapi ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi selanjutnya menciptakan suasana yang mencekam.

Presiden sementara, Delcy Rodríguez, telah berusaha menampilkan kesan tenang dan terkendali sejak dilantik pada hari Senin, tetapi tidak ada yang bisa menyembunyikan keterkejutan dan kegelisahan pemerintah.

Selain rasa malu karena selain presidennya diseret ke pengadilan di New York atas tuduhan perdagangan narkoba, pihak berwenang menghadapi risiko serangan baru dari AS, keruntuhan ekonomi, keretakan internal rezim, dan kembalinya para pemimpin oposisi yang berbasis di luar negeri.

Baku tembak sempat meletus pada Senin malam ketika pasukan keamanan menembak drone yang tidak berizin yang dilaporkan dikira sebagai operasi Amerika Serikat lainnya. 

"Tidak ada konfrontasi, seluruh negara tetap tenang,” kata Wakil Menteri Informasi, Simon Arrechider  kepada wartawan.

Namun, ini tetap saja menjadi ketenangan yang tegang.

Pada hari Senin itu juga setidaknya 14 jurnalis dan karyawan media, termasuk 13 anggota organisasi media internasional juga ditahan di Caracas. Semuanya, kecuali satu kemudian dibebaskan.

Dekrit darurat telah dikeluarkan untuk memberantas segala bentuk perayaan publik atas penggulingan Nicolas Maduro dan memerintahkan polisi untuk mencari dan menahan “setiap orang yang terlibat dalam promosi atau dukungan terhadap serangan bersenjata oleh Amerika Serikat itu”.

Rekaman yang diunggah di media sosial menunjukkan kelompok-kelompok massa,  beberapa di antaranya mengenakan masker memblokir jalan raya, berkeliaran di lingkungan pro-oposisi dan menanyai warga, mendorong orang-orang untuk memperingatkan teman dan keluarga melalui WhatsApp dan platform lain untuk meninggalkan ponsel di rumah atau menghapus konten politik dari ponsel mereka.

Menteri Dalam Negeri, Diosdado Cabello, mengunggah foto dirinya berpose dengan polisi yang memegang senjata dan meneriakkan "selalu setia, tidak pernah pengkhianat".

Jeaneth Fuentes, 53, seorang dokter di klinik swasta di Caracas mengatakan, bahwa kehadiran kelompok bersenjata, beberapa berseragam, yang lain berpakaian sipil membuat perjalanan pulang pergi kerjanya terasa seperti perjudian. “Ini menakutkan, mengerikan," katanya.

Suara tembakan pada Senin malam memperparah perasaan bahwa apa pun bisa terjadi, katanya. "Saya tidak bisa membuat rencana, saya menjalani setiap menitnya," ujarnya. Dia meninggalkan rumah hanya untuk bekerja, dan tidak pernah setelah pukul 6 sore.

Fuentes menyatakan harapan bahwa kekacauan saat ini bisa mengarah pada berakhirnya pemerintahan chavismo, gerakan yang dibawa Hugo Chavez ke tampuk kekuasaan pada tahun 1999. "Sesuatu dibangun selama bertahun-tahun, itu tidak bisa dihancurkan dalam sehari," katanya lagi.

Sementara pendukung pemerintah mengutuk penculikan Nicolas Maduro dan mengatakan mereka akan membela kedaulatan Venezuela. 

"Ada semangat juang yang melekat pada rakyat Venezuela,” kata Willmer Flores, seorang pegawai kementerian keuangan. "Kami adalah pembebas Amerika, dan kami tidak gentar oleh apa pun," tegasnya, dan ia berjanji untuk bersolidaritas dengan Nicolas Maduro.

Dengan pemerintahan Trump yang memperingatkan potensi serangan militer baru, dan blokade ekspor minyak yang menekan pendapatan, muncul spekulasi tentang perpecahan di dalam rezim mengenai bagaimana mengakomodasi Trump sambil tetap mempertahankan kredibilitas anti-imperialis.

Tidak seperti Rodríguez, yang tidak menghadapi tuntutan pidana di AS, menteri-menteri seperti Cabello yang dituduh terlibat perdagangan narkoba akan bisa kehilangan bukan hanya kekuasaan tetapi juga kebebasan mereka.

Kekhawatiran lain bagi pemerintah adalah María Corina Machado , pemimpin oposisi buronan yang memobilisasi jutaan pemilih tahun lalu, menyelinap ke Oslo untuk menerima hadiah Nobel Perdamaian dan sekarang bersumpah untuk kembali.

“Saya berencana untuk pulang sesegera mungkin,” katanya kepada Fox News. “Kami percaya bahwa transisi ini harus berjalan lancar,” katanya kepada Fox News dalam sebuah wawancara. “Kami memenangkan pemilihan dengan kemenangan telak dalam kondisi yang curang. Dalam pemilihan yang bebas dan adil, kami akan memenangkan lebih dari 90% suara.”

Namun, Trump secara terbuka menolak Machado , dengan mengatakan bahwa ia kurang mendapat dukungan di Venezuela, dan secara diam-diam mendukung kelanjutan pemerintahan Chavista di bawah Rodriguez, tapi dengan syarat memenuhi permintaan AS yakni lakses istimewa bagi perusahaan minyak AS.

Banyaknya spekulasi itu kini membuat rakyat Venezuela ketakutan, terlebih lagi kini bermunculan milisi bersenjata di dalam negeri yang terus mengawasi mereka. (*)

Pewarta : Widodo Irianto
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Subang just now

Welcome to TIMES Subang

TIMES Subang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.