Makna Lagu Daerah Ampar-Ampar Pisang, Tentang Proses Pembuatan Rimpi
Ilustrasi untuk lagu daerah Ampar-ampar Pisang. FOTO: jalan-jalan yuk

Makna Lagu Daerah Ampar-Ampar Pisang, Tentang Proses Pembuatan Rimpi

Lagu dari daerah Kalimantan Selatan Ampar-ampar Pisang ternyata tak sekadar tentang permainan, tapi berkisah tentang proses pembuatan rimpi atau disebut juga rimpi pisang.

TIMES Subang,Sabtu 8 November 2025, 02:55 WIB
342.1K
D
Dhina Chahyanti

jakartaTentunya TIMES Lovers tahu ya dengan lagu daerah Ampar-ampar Pisang. Lagu ini juga menjadi lagu latar untuk permaian tradisional anak-anak.

Terdapat berbagai cara bermain, tetapi yang paling umum adalah dengan pemain duduk melingkar, menyentuh kaki satu per satu saat bernyanyi, dan pemain yang kakinya terakhir tersentuh saat lagu berakhir "kalah" karena "kaki buntung digigit bulus". Permainan ini melatih sportivitas dan kekompakan serta melestarikan budaya lisan.

Lagu dari daerah Kalimantan Selatan Ampar-ampar Pisang ternyata tak sekadar tentang permainan, tapi berkisah tentang proses pembuatan rimpi atau disebut juga rimpi pisang. 

article
FOTO: instagram/ hanhanny

Rimpi merupakan pisang yang dikeringkan dengan cara diasap atau dijemur. Biasanya pisang yang digunakan adalah raja aatau kepok yang sudah matang. 

Pisang setelah dikupas (bisa diiris bisa juga utuh) diletakkan di bawah sinar matahari langsung selama beberapa hari sampai kadar airnya berkurang. Tandanya jika warna pisang sudah berubah cokelat gelap. 

Selain dijemur ada juga yang menggunakan metode pengasapan. Tapi untuk cara ini nggak bisa diasap dengan sembarang kayu bakar, harus kayu mahoni atau mangga untuk menhasilkan aroma yang sedap. 

Rimpi pisang bisa dimakan langsung, disimpan dalam jangka waktu yang lama dan bisa juga diolah kembali misalnya digoreng. 

Nah selain berkisah tentang proses pembuatan rimpi pisang, lagu Ampar-ampar Pisang juga mengandung nilai pesan moral. 

Pada lirik "patah kayu bengkok, bengkok dimakan api" diibaratkan perbuatan buruk yang tidak bisa ditutupi dan pasti akan terbongkar, seperti halnya mencuri pisang yang akan diketahui.

Dan pada lirik terakhir "nang mana batis kutung dikitip bidawang" adalah cara orang tua menakuti anak-anak agar tidak mencuri pisang yang sedang dijemur, dengan ancaman akan digigit biawak atau kura-kura besar jika mencuri.

Pesan moralnya kita harus bersabar, terutama dalam proses kehidupan, yang diagambarkan dalam pembuatan rimping pisang. Proses pembuatannya harus sabar karena lama sampai mendapatkan rimping pisang yang nikmat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Dhina Chahyanti
|
Editor:Dhina Chahyanti

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Subang, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.